Aldi sudah tidak punya Ibu sejak ia kecil. Tepat pada umur 5 tahun ibunya meninggal karena sebuah penyakit kronis. Saat itu ia masih belum mengerti apa arti sebuah kehilangan seseorang yang amat berharga dalam hidupnya.
Seiring bertambahnya umur, ia mulai mengerti bahwa ia berbeda dengan teman-temannya yang lain. Ia tidak punya ibu. Seringkali ia merasakan kangen tak terbendung kepada seseorang yang belum ia kenal dengan baik. Ia ingin bertemu dengan seseorang yang telah melahirkannya itu kemudian mengucapkan ‘Bu, aku sangat sayang padamu’.
Tak ada sesuatu yang abadi, obat kesepian yang selalu diberikan oleh ayahnya itu sudah berkurang sejak ayahnya sakit-sakitan. Kemudian tepat 5 tahun lalu saat ia berumur 16 tahun, ayahnya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Ia tidak kuasa menahan tangis karena kepergian ayahnya tersebut. Sekali lagi ia kehilangan salah satu orang paling berharga dalam hidupnya.
Saat itu dia putus asa. Mungkin itulah kondisi paling rendah seumur hidupnya. Ia sudah kehilangan harapan. Ia sudah kehilangan semangat untuk meraih cita-citanya yang dulu melangit itu. Continue reading →