Cukup. Saya sudah cukup gerah berkutat dengan permasalahan ini. Bila awalnya saya hanya sekadar memberitahu dengan kalimat singkat lewat komentar facebook atau reply twitter, kali ini saya coba posting lewat blog. Semoga lebih bermanfaat dan permasalahan bisa dilihat dengan lebih jelas.

MUI

MUI [gambar diambil dari tempo.co]

Latar belakang / motivasi

Pada tanggal 20 Desember lalu, Tempo menerbitkan artikel tentang fatwa larangan MUI bagi umat Islam untuk mengucapkan selamat natal. Agaknya beberapa orang yang saya follow sudah berpandangan negatif terhadap fatwa-fatwa MUI. Pandangan tersebut berujung pada mosi tidak percaya dan menentang balik fatwa MUI dengan mencari alasan destruktif pada fatwa tersebut agar fatwa MUI terkesan salah. Sebutlah berita Presiden Palestina menghadiri Misa Natal.

*sigh*

Jadi begini, fatwa MUI itu tidak salah DAN sikap Presiden Palestina juga tidak salah. Sudahlah, tidak usah saling berdebat benar salah atau menyalahkan. Karena keduanya tidak salah.

Perdebatan ini saya analogikan dengan perdebatan boleh atau tidak makan sate kambing. Ya boleh, asalkan orangnya tidak sedang menderita penyakit darah tinggi. Atau seorang vegetarian misalnya. Saya suka gemas jika masih saja ada orang yang mendebatkan permasalahan ini hingga menyalahkan satu sama lain.

Loh? Jadi hukum ucapan selamat natal itu haram gak?

Hukum mengucapkan selamat natal itu diperbolehkan, ASAL bisa memelihara aqidah. Emang pernah dengar kabar orang Islam berpindah agama setelah mengucapkan selamat natal? Belum, tapi memelihara aqidah dalam konteks ini yakni memelihara agar tidak terjadi kerancuan aqidah bagi diri sendiri atau muslim yang lain1. Nah kasus Presiden Palestina bisa ditempatkan dalam konteks ini.

Kalau konteks MUI, mereka mengambil asas kehati-hatian, yang berarti lebih baik `tidak` secara default daripada `iya` tapi ada kekhawatiran. Mereka mengambil keputusan yang tegas dan pasti bagi rakyat Indonesia secara umum. Saya pikir peran media untuk menampilkan statement MUI secara lengkap juga diperlukan agar MUI tidak terkesan asal-asalan membuat fatwa, tapi dengan alasan yang kuat, jelas, dan bisa diterima.

*no debate*

*period*

Postingan ini bertujuan untuk memberitahukan pandangan, bukan memaksakan pandangan. Lagipula pandangan terhadap hal ini memang multitafsir, yang berarti ulama yang satu dengan ulama yang lain bisa berbeda pendapat. Tentu dengan alasan kuat masing-masing. Silakan menganut pandangan yang Anda percaya, karena kepercayaan bukan untuk dipaksakan, tapi untuk dipercayai.

Khusus untuk pembaca yang beragama Kristen dan Katolik (eh Katolik juga kan? atau cuma Kristen saja?), semoga bisa mengerti dan memaklumi atas hal ini apa adanya ya. *peace*

1 Kalimat ini diambil langsung dari artikel `Membumikan Al-Qur’an` oleh Pak Quraish Shihab karena kalimatnya jelas dan mudah dicerna.

Eh ada rencana/sudah berlibur ke daerah mana akhir tahun ini? :-D